Lain Dulu, Lain Sekarang

CiVSoftVAAA4PBV

Foto : Facebook Kotak Kata

Lain Dulu , Lain Sekarang…..entah ko saya jadi kepikiran untuk bikin tulisan yang melintas sesaat,  saat melihat foto banyak yang menggugah rame2 ke suatu tempat dan  saya lihat memang ada yang dibela2in untuk narsis dan eksis, tapi bisa jadi ada  yang berlebihan juga dan setiap mengunjungi ke suatu tempat itu ada aturan dan bagaimana untuk bisa menjaga, bukan membuat alasan untuk kekinian dan seenaknya saja.

Waktu saya kecil dulu, jaman masih SD  tahun 97 -an moment seperti ini tak akan pernah saya lupakan, karena saya pernah merasakan di mana petani memang sangat menjaga hasil dari Tanaman, dari ber macam2 jenis sayuran, tanaman padi dan kembang yang boleh terbilang langka pada waktu itu. Untuk menanam benih yang didapat seperti Padi salah satu contohnya saja, untuk menjaganya  sampai tumbuh dan ada yang gagal jadi bibit karena ke makan hama, bisa dari tikus dan musang dan sejenisnya, untuk air saja masih rebutan dulu pembagianya berdasarkan jam2 tertentu , ada yang malem2 bawa senter, ada juga yang bikin tanggul untuk air dari kali bisa kebagian ke sawah. Sedikit cerita dari saya yang kebetulan pernah merasakan dan sadar akan alam yang memang harus dijaga dan banyak hasil yang didapat dari alam, untuk kebutuhan di Desa dan banyak lagi sandang, pangan , papan .

Lain Dulu, Lain Sekarang #1

Dulu saya pernah merasakan yang namanya , Nraktor sawah (Bajak Sawah) Pas liburan sekolah mau kenaikan kelas 5 SD ,salah satu gambaran bisa di lihat dibawah ini, ini termasuk besar Traktornya, saya pernah menjalankan yang sedang masih dibawahnya ini20120627153225576

dari kendala yang dihadapi saat Nraktor (Nrak itu Nabrak, Tor itu bunyi Tor..Tor….) dulu jaman SD emang rasa ingin tahu itu besar dan mencoba adalah suatu keharusan, dari yang namanya jalan, itu sampe mikir ada yang dilepas rangkaianya, untuk di gotong dulu sampe lokasi yang ingin di Traktor Cerita sederhana awal mulanya saya ikut Pakdhe kurang lebih ada dari kelas 4 – kelas 6 dari yang namanya pekerjaan sehari2 sebagai anak  (Tani) yang semua pernah saya rasakan, dimana orang tua dulu tinggal kurang lebih jarak dari tempat Pakdhe terbilang lumayan jauh, saya di tempat Pakdhe karena dekat dengan jarak sekolah SD Tremes II . Perjalanan dan petualangan dimulai ketika saya Pindah sekolah dari SD 01 Pagi Pesanggrahan, Bintaro di tahun 1997 (ditahun ini masih bolak -balik Solo-Jakarta) dan jaman Mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 dan  saya pun pernah merasakan kerushan Mei 1998, tapi jaman itu saya nggak berani kemana2 😀 *ngumpet*

Karena situasi pada saat itu  orang tua  khawatir, dengan kondisi kerusuhaan Mei 1998 dan ada 2 Pilihan pada waktu itu (Untuk beli rumah di Bintaro yang dulu seharga 30 juta aja udah wah banget lumayan lah, atau balik kampung Solo untuk bikin rumah disana dan beli sawah) dan pilihan itu jatuh pada saya berpisah sekolah di kelas 2 SD dan pada waktu itu  tetes air mata dipipi…….*tisu mana tisu* harus berpisah dengan teman2 yang sudah sangat akrab dan guru terbaik saya Ibu “Nur” yang tiap ngajar selalu bawa anaknya yang  seangkatan , dan jadi kayak saling curi2 pandang 😀

Dan pada akhirnya saya pindah, udah kayak anak ayam, semasa SD pindah 3 kali (Jakarta, Wonosobo, Solo) saya memulai petualangan dan benar2 di gembleng itu ketika berada di Solo di tempat Bapak saya, dari yang gak biasa dan harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar , sekolah pernah nggak pake sepatu dan diejek habis2an karena dulu kalau di kampung ada orang asing banyak diledekin pake bahasa jawa dan saya nggak mudeng .

Lain Dulu, Lain Sekarang #2

Jadinya jalan cerita untuk yang saya rasakan pada waktu itu, mau tidak mau, menghindar tidak boleh namanya kehidupan dikampung harus bisa beradaptasi dari sebelumnya yang di Jakarta memang beda sangat terasa. Membuat saya tertantang dan rasa ingin tahu dan mencoba ini yang saya jadi keterbiasaan dengan usaha orang2 di Desa dan lama-kelamaan saya terbiasa, saya pun tidak kaget dengan yang sudah pernah saya alami, memang di Desa itu membuat saya lebih mawas diri dan selalu mengontrol keadaan, karena kalau saya tidak pernah mengalami kegiatan sehari2 di Desa mungkin saya terbilang lemah dan hanya bisa mengikuti trend sesaat, apa yang saya rasakan sewatu di Kampung dari kelas 4-6 SD ini saya sangat merasakan kehidupan di Kampung dari namanya Bertani dan setiap pulang sekolah itu gak jauh dari yang namanya Ngirim  kalau ada orang sedang mencangkul di sawah untuk jam makan siang saya yang ngantar, dan cari ramban (pakan hewan) , dan saat panen padi ini saya juga merasakan, masyarakat berbondong2 bagi yang memiliki hewan ternak Sapi untuk berebut damen , Bisa malem ada juga subuh sudah bawa Arit dan bambu runcing untuk mikul.

Lain Dulu, Lain Sekarang #3

Kehidupan di Desa yang jadi pelajaran bagi saya , untuk selalu mengingat karena kampung halaman adalah tempat tinggal yang nyaman apapun keadaanya itu, dari yang namanya cari rumput, ikut panen padi, nebas kacang, mendaki gunung, cari kayu bakar sampe malam pake lampu petromak cari belut juga pernah saya rasakan, yang horor kalau cari belut itu banyak ular lewat dan ngedeketin tempat terang , tiba2 ular ngedeket pada bubar misah ngilangin jejak sementara, terus balik lagi ke pos (gubuk petani) . tapi kejadian yang saya jadi ikut2an sama anak2 kampung pada waktu itu berburu ayam tetangga buat di bakar, dan setelah kejadian itu tahu oleh warga, saya dan teman2 sempat merasakan sidang dari pak RT  ya di kasih pencerahan 😐

Lain Dulu, Lain Sekarang #4

Jadi dari pandangan saya yang saya lihat ada sebagian kejadian yang  kekinian untuk eksis dan kurangnya menjaga lingkungan, saya hanya tersenyum melihatnya, saya sudah merasakan sejak kecil disaat orang lain muncak dan merasakan alam yang benar2 penuh perjuangan untuk sampai puncak waktu duduk di kelas 6 SD, pada waktu itu masih belum ada yang namanya Foto Selfie dengan gaya kekinian. Bicara mendaki kelas 1 SMP saya pernah sampai  Gunung Lawu  dan Gunung Kidul modal nekat rasa ingin tahu dan perjalanan sampai muncak itu horor ternyata, cuma suara teriak dan terbilang mistis banyak batu2 yang aneh dan untuk naik saja terasa lama dan sempat salah jalur pendakian, banyak yang dilihat tak kasap mata buat sekumpulan anak2 seperti saya dan ada teman saya yang namanya dulu kelebihan anak bisa melihat barang halus. Tanah jawa itu benar saya merasakan hal yang tak biasa, dari namanya yang melihat kejadian aneh dan macan lewat ditengah malam bawa pocong ini jadi salah satu cerita yang sampai saat ini horor buat saya, cukup masa kecil dan di kampung halaman banyak cerita mistis.

Lain Dulu, Lain Sekarang #5

Apa yang saya lihat semasa kecil memang banyak pelajaran bagi hidup saya dari namanya bersosialisasi di kampung dan rasa ingin tahu yang besar sampai cerita yang tak biasa menjadi nyata, terkadang juga memang saya melihat gak percaya, tapi setelah saya merasakan memang itu ada. Perjalanan semasa kecil itu kalau dari apa yang saya rasakan butuh yang namanya keuletan dan menjaga lingkungan bukan modal untuk senang2 saja, semua kegiatan di kampung halaman itu memang harus bisa dirasakan bukan cuma gaya.

Pelajaran yang saya dapat semasa kecil, selalu dengar kata Mbah Putri / Mbah Kakung melatih diri sejak kecil , biasakan hidup di kampung dan dari situ tau apa yang perlu di petik dari hasil usaha, contoh sederhana adalah menanam padi dan panen. Dan suatu saat hidup di Kota bakalan melihat yang pernah dialami (dan benar) . Masa dimana ketika merasakan yang baru dirasakan oleh orang lain dan kita pernah mencoba, sepintas itu hal yang biasa mengingat akan proses yang dialami waktu itu. Tapi yang perlu diingat itu jangan berlebihan saat berkunjung ke tempat lain ngikutin aturan yang ada dan batasanya, peka terhadap lingkungan sekitar. Banyak yang lepas kontrol karena ngikutin trend.

yaa ini sedikt bagian dari cerita jaman SD dan kehidupan di Desa yang mana saya tergerak untuk menulis cerita ini dari melihat banyak foto lalu lalang di media sosial foto selfie dan kurangnya menjaga lingkungan sekitar, bukan maksud untuk ikut2an berkomentar dan menghujat tapi untuk saling menjaga , jangan cuma ngikutin trend kekinian tapi lupa menjaga lingkungan sekitar

Advertisements
This entry was posted in Cara Pandang, Cerita Sekitar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s